EXPRESI.co, BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengungkapkan kekhawatirannya terkait potensi meningkatnya angka pengangguran akibat pengurangan kuota produksi batu bara di PT Indominco Mandiri.

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat itu memangkas kuota produksi perusahaan dari sebelumnya 8 juta ton per tahun menjadi hanya 4 juta ton per tahun. Penurunan drastis ini diprediksi akan berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja di sektor tambang.

“Adanya aturan bahwa perusahaan tambang maksimal produksi 4 juta ton, sementara sebelumnya 8 juta ton per tahun. Artinya, pasti akan ada pengurangan tenaga kerja,” ujar Neni dalam Musrenbang RKPD untuk tahun 2027, Selasa 7 April 2026.

Meski lokasi operasional PT Indominco Mandiri berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur, sebagian besar tenaga kerjanya diketahui berasal dari Kota Bontang. Kondisi ini membuat dampak kebijakan tersebut berpotensi dirasakan langsung oleh masyarakat Bontang.

Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah daerah, sekitar 600 pekerja berpotensi dirumahkan. Pemerintah Kota Bontang pun diminta untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Neni menegaskan, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait harus mulai merancang langkah antisipatif, terutama dalam memperkuat sektor ekonomi alternatif.

“UMKM harus disiapkan, dinas-dinas terkait, termasuk dinas sosial, kita harus sama-sama memikirkan langkah ke depan,” tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kota Bontang telah menyiapkan program bantuan modal usaha bagi pelaku UMKM dengan skema bunga 0 persen. Program ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang terdampak pemutusan hubungan kerja.

Di sisi lain, data per Agustus 2025 mencatat jumlah pengangguran di Bontang telah mencapai 6.303 orang. Dengan potensi tambahan ratusan tenaga kerja terdampak, pemerintah daerah dituntut bergerak cepat agar angka pengangguran tidak melonjak signifikan.

Neni juga berharap, jika terjadi pengurangan tenaga kerja, dampaknya tidak terlalu besar bagi warga Bontang.

“Kita tetap berharap, kalaupun ada pengurangan, bukan masyarakat Bontang yang terdampak,” pungkasnya. (Sal/adv)