Kekerasan Seksual Masif di Kampus, BEM FIB Unmul Gelar Diskusi

Redaksi

EXPRESI.co, SAMARINDA – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman (Unmul) gelar diskusi yang mengangkat tema “Sikap Kampus Menindak Pelaku Pelecehan dan Kekerasan Seksual” mengingat masifnya kekerasan seksual terjadi pada lingkup kampus.

Koordinator Program Studi Sastra Indonesia FIB Ahmad Mubarok mengatakan bahwa Kampus Ilmu Budaya berkomitmen menanggulangi kekerasan seksual serta menyatakan keberpihakannya pada korban yang mengalami.

“Kami akan menindak tegas para pelaku yang melakukan tindakan tersebut,” ungkpanya.

Lebih lanjut, Mubarok menjelaskan, dengan dilaksanakan diskusi masifnya kekerasan seksual sore ini, pihaknya juga akan menindak lanjuti masukan-masukan yang disampaikan dalam diskusi agar terciptanya kampus yang aman serta bebas dari kekerasan seksual.

“Dalam waktu dekat ini kita akan terus berkomunikasi dengan Komunitas Savrina Deya yang memang concern menangani hal tersebut, terlebih ciri-ciri kekerasan dan pelecehan seksual kami sangat minim mengetahui,” ujarnya.

Dia juga meminta kepada seluruh masyarakat FIB yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa harus lebih terbuka terkait kasus kekerasan seksual.

Kekerasan berbasis gender terhadap perempuan di lingkungan pendidikan paling banyak terjadi di perguruan tinggi periode tahun 2015-2021 ada 67 kasus kekerasan terhadap perempuan di lingkungan pendidikan. Kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan yakni kekerasan seksual 87,91 persen, psikis dan diskriminasi 8,8 persen. Lalu, kekerasan fisik 1,1 persen.

Perguruan tinggi menempati urutan pertama untuk kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dengan 35 kasus pada tahun 2015 hingga 2021.

Kemudian perwakilan Akademik FIB Eka Prasetya mengatakan Kampus FIB Unmul menolak dengan tegas pelaku pecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus apabila di lakukan civitas akademika atau pun masyarakat kampus.

Apabila masyarakat kampus mendapat perlakuan yang telah di sebutkan harus melapor agar dapat ditindak tegas.

“Sebab laporan sebagai kebutuhan administrasi harus masuk supaya bisa cepat ditindak,” ungkapnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Also Read

Tags

Ads - Before Footer