EXPRESI.co, SAMARNDA – Meningkatnya kasus perundungan di lingkungan pelajar Samarinda memicu perhatian dari berbagai pihak, termasuk Sekretaris Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Muhammad Darlis Pattalongi.
Darlis menyampaikan bahwa tren kasus bullying, khususnya di ruang digital, tidak bisa hanya dilihat sebagai akibat dari kemajuan teknologi. Ia menilai bahwa kurangnya pendekatan yang seimbang terhadap penggunaan teknologi digital dalam dunia pendidikan menjadi faktor pemicu yang utama.
“Menjadikan teknologi sebagai kambing hitam bukanlah solusi. Menolak kemajuan digital justru bisa menjadi langkah mundur bagi dunia pendidikan,” tegasnya.
Menurutnya, kasus perundungan yang marak terjadi melalui platform digital merupakan refleksi dari penggunaan teknologi yang tidak dibarengi dengan pembentukan karakter dan pemahaman etika yang baik.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran aktif sekolah dan keluarga dalam membimbing pelajar agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Penggunaan teknologi yang tidak sesuai fungsinya harus menjadi refleksi bagi kita semua. Ini bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga orang tua dan seluruh elemen pendidikan,” ujar Darlis.
Ia juga mendorong agar pemerintah serta institusi pendidikan lebih intensif dalam melakukan advokasi dan edukasi tentang etika digital, guna membentuk generasi muda yang cakap dalam berinteraksi secara sehat di ruang maya.
“Orang tua memiliki peranan penting untuk memastikan anak-anaknya menggunakan teknologi secara positif, terutama untuk mendukung proses belajar,” tambahnya.
Darlis berharap ke depan akan ada sinergi yang lebih kuat antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, sehat, dan edukatif bagi pelajar. (Adv/DPRD Kaltim/IA)

Tinggalkan Balasan