EXPRESI.co, KUTIM – Jaringan Kerja Masyarakat Sipil Kutai Timur akan menggelar nonton bareng dan diskusi film dokumenter investigatif Pesta Babi (Pig Feast) di Sangatta Utara, Sabtu 16 Mei 2026 malam. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi 19 organisasi dan lembaga di Kutai Timur.
Pemutaran film dijadwalkan berlangsung di halaman Kaltim Post Biro Kutai Timur, Jalan APT Pranoto, Sangatta Utara, mulai pukul 19.00 Wita dan terbuka untuk umum.
Film dokumenter Pesta Babi (Pig Feast) mengangkat berbagai persoalan di Papua Selatan, mulai dari ekspansi industri dan proyek berskala besar, ancaman terhadap hutan dan ruang hidup masyarakat adat, konflik agraria, hingga krisis ekologis yang berdampak pada kehidupan warga setempat.
Selain menyoroti perubahan bentang alam akibat eksploitasi sumber daya alam, film tersebut juga menggambarkan bagaimana masyarakat adat mempertahankan tanah, budaya, serta sumber penghidupan mereka di tengah tekanan investasi dan pembangunan.
Koordinator Jaringan Kerja Masyarakat Sipil Kutai Timur, Jufriadi mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi bersama terkait isu lingkungan, masyarakat adat, dan pengelolaan sumber daya alam.
“Film ini bukan hanya berbicara tentang Papua, tetapi juga menjadi ruang belajar dan refleksi bersama bagi masyarakat di daerah yang hidup di tengah sumber daya alam melimpah seperti Kutai Timur,” ujarnya, jumat 15 Mei 2026.
Film Pesta Babi (Pig Feast) merupakan karya kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Greenpeace Indonesia, Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, dan Pusaka Bentala Rakyat. Film tersebut merekam perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan menghadapi ancaman eksploitasi tanah dan krisis ekologis.
Jufriadi menyebut kegiatan nobar dan diskusi itu juga akan menghadirkan narasumber untuk membahas isi film bersama peserta yang hadir. Selain itu, panitia turut membuka donasi sukarela untuk pengungsi Papua yang nantinya disalurkan melalui lembaga sosial dan kemanusiaan.
“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi ruang bertukar pandangan dan memperkuat kepedulian terhadap isu lingkungan dan masyarakat adat,” katanya.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan