EXPRESI.co, BONTANG — Dinas pemuda, olahraga, pariwisata, dan ekonomi kreatif (Dispopar-Ekraf) Kota Bontang rencana meluncurkan program Bontang Creative Lab (BCL) untuk mengakselerasi kemajuan ekonomi kreatif lokal. Program ini direncanakan aktif mulai 2026.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Doddy Rosdian, menjelaskan BCL dirancang sebagai ekosistem kolaboratif yang komprehensif. Wadah ini akan menyatukan sentral pembinaan, pendidikan, pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bisnis.

Selain itu, BCL akan berfungsi ganda sebagai ruang kerja bersama (co-working space) dan etalase produk serta jasa bagi para pemuda dan pelaku ekonomi kreatif.

“Ini wadah agar pengembangan ekonomi kreatif bisa terarah dan terukur, dari segi data pertumbuhan secara kualitas kita bisa tahu mengingat peran Dispoparekraf sebagai inisiator dan akselerator.” ungkapnya saat ditemui Expresi Kamis, 20 November 2025.

Program BCL ini tentu saja membutuhkan bangunan. Namun, hingga kini tempatnya belum pasti. Pengembangan dan pendanaannya pun turut menggandeng perusahaan serta bantuan kredit usaha berupa skema pembiayaan Micro-Seed tanpa bunga khusus pemuda Ekraf yang lolos inkubasi di BCL.

Selanjutnya, Dispopar-Ekraf juga akan membentuk Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang terhimpun dari unsur pembina, mitra kerja perangkat daerah, akademisi, bisnis, pelaku/penggiat Ekraf, komunitas, birokrat, dan media.

Peran Komite Ekraf mempunyai tugas yang akan bertanggung jawab penuh dalam mengoordinasikan, merumuskan kebijakan, dan memfasilitasi pengembangan ekonomi kreatif BCL.

“Kalau konsepnya cuman BCL sendiri ada kemungkian tidak bisa berjalan maksimal, jadi kita sebelumnya harus membentuk komite Ekraf.”ungkapnya.

Selain itu, Doddy menegaskan kehadiran BCL tidak punya kaitan dengan gedung Rumah Kreatif Milenial (RKM) yang sampai kini belum digunakan.

Beda Dengan BCC

Terbengkalainya gedung RKM yang beberapa waktu lalu disorot Komisi C DPRD Bontang mempunyai kaitan erat dengan komunitas Bontang Creative Collaboration (BCC).

Pasalnya komunitas ini awalnya digadang bakal mengelola gedung yang telah menelan uang rakyat sebesar Rp4,9 miliar di masa pemerintahan Basre Rase-Najirah.

Sedikit memiliki kesamaan dengan konsep BCL, BCC hadir sebagai komunitas independen yang mengelola RKM untuk memfasilitasi pengembangan pelaku ekonomi dan komunitas ekonomi kreatif lokal Bontang di bawah naungan Dispopar-ekraf.

BCC sebagai pengelola yang bertanggungjawab atas rencana awal bakal menghimpun dan membina pelaku dan komunitas di 17 sub sektor ekonomi kreatif. Setiap sub sektor itu telah ditunjuk koordinator masing-masing.

“BCC itu induknya dari sub sektor. konsepnya menjadi agensi (wadah distribusi) dan Inkubasi (wadah pengembangan),” jelas Kordinator Utama BCC, Fadhil Kaharuddin Jafar saat dihubungi Expresi oada Sabtu, 1 November 2025 lalu.

Fadhil mengatakan sebetulnya kehadiran BCC bukan hal mendasar bagi keberlangsungan rencana fungsi RKM nantinya: memajukan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kota Taman. Menurutnya, masih banyak pelaku yang mumpuni untuk merealisasikan pengembangan Ekraf.

“Yang penting gedung RKM itu bisa berjalan saja,” imbuhnya. (Labib)