‎‎EXPRESI.co, KUTIM — Proyek Jembatan Sei Nibung yang menghubungkan Desa Kandungan Jaya, Kecamatan Kaubun dengan Desa Pelawan, Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim), akhirnya diresmikan setelah molor selama 12 tahun pengerjaan.

‎Peresmian dilakukan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, Selasa (24/2). Rampungnya jembatan ini menandai berakhirnya perjalanan panjang proyek infrastruktur yang sempat tersendat akibat berbagai persoalan.

‎Di balik peresmian tersebut, proyek ini tercatat menyerap anggaran ratusan miliar rupiah secara bertahap sejak 2014. Pada periode 2014–2022, pemerintah menggelontorkan Rp58,7 miliar untuk pekerjaan awal. Tahun 2023 kembali dialokasikan Rp58,7 miliar untuk penyelesaian substruktur.

‎Memasuki 2024, anggaran meningkat menjadi Rp104 miliar untuk pemasangan struktur atas atau girder. Kemudian pada 2025, pemerintah kembali mengalokasikan Rp139,3 miliar untuk penyelesaian jalan akses.

‎Rudy menyebut pembangunan jembatan ini merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia mengakui proyek itu memakan waktu lama karena sempat menghadapi berbagai hambatan dalam proses penyelesaiannya.

‎“Pimpinan (Gubernur) boleh berganti, tetapi tanggung jawab untuk kepentingan masyarakat itu tidak boleh berhenti,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan proyek sempat tertunda akibat berbagai kendala, mulai dari masalah teknis, pembiayaan, faktor cuaca, hingga persoalan kontraktor yang bermasalah.

‎“Faktor terutamanya yang paling besar adalah kontraktornya hilang,” katanya.

‎Kepala Dinas PUPR Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda, menjelaskan jembatan memiliki panjang total 390 meter, terdiri dari bentang tengah 90 meter serta bentang pendekat masing-masing 150 meter di sisi kiri dan kanan.

‎“Tambah jalan pendekat yang pakai pile slab itu yang sisi Kadungan Jaya 135 meter, dari sisi Pelawan 500 meter,” terangnya.

‎Ia menyebut akses jalan dari sisi Pelawan akan dilanjutkan bertahap menuju simpang 46 di wilayah Berau.

‎“Nanti kita cicil sampai keluar simpang 46,” katanya.

‎Kini, selain memangkas jarak tempuh hingga 140 kilometer dan mengurangi waktu perjalanan sekitar empat jam menuju kawasan Biduk-Biduk, proyek ini juga menjadi catatan panjang pembangunan infrastruktur yang sempat tertunda lebih dari satu dekade sebelum akhirnya dapat dimanfaatkan masyarakat.(Yuristio)