EXPRESI.co, KUTIM — Kawasan Taman Nasional Kutai (TNK), Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, kian diminati wisatawan mancanegara.
Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan asing ke kawasan konservasi tersebut tercatat mengalami peningkatan signifikan, seiring meningkatnya minat terhadap wisata alam berbasis edukasi dan pelestarian lingkungan.
Data Balai TNK menunjukkan, pada 2023 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung mencapai 475 orang. Angka tersebut naik menjadi 482 orang pada 2024, dan melonjak tajam pada 2025 dengan total 658 kunjungan.
Kasubbag Tata Usaha Balai TNK, Kristina Nainggolan, menyebut peningkatan ini tidak terlepas dari perubahan tren pariwisata global yang kini mengarah pada pengalaman wisata alam dan kawasan konservasi.
“Tren pariwisata saat ini memang bergeser ke wisata alam, khususnya kawasan konservasi. Masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara, semakin sadar akan pentingnya menjaga alam,” ujar Kristina, Kamis 22 Januari 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan satwa endemik Kalimantan yang masih hidup di habitat aslinya menjadi daya tarik utama TN Kutai. Orangutan menjadi magnet terbesar yang mendorong wisatawan asing datang ke kawasan tersebut.
“Sebagian besar wisatawan mancanegara datang dengan tujuan melihat orangutan langsung di alam liar. Mereka ingin memahami perilaku satwa tersebut sekaligus menikmati hutan hujan tropis Kalimantan,” jelasnya.
Kristina mengungkapkan, sekitar 90 persen wisatawan mancanegara memilih kawasan Prevab sebagai destinasi utama. Lokasi ini dikenal sebagai habitat alami orangutan yang dapat dikunjungi melalui paket wisata dengan pengaturan khusus.
Selain orangutan, wisatawan juga berkesempatan menyaksikan berbagai satwa endemik lainnya, seperti bekantan, burung khas Kalimantan, hingga satwa nokturnal yang hanya dapat diamati pada waktu tertentu.
Dalam pengelolaannya, Balai TNK menerapkan konsep wisata berbasis konservasi dengan pembatasan jumlah pengunjung serta pengaturan waktu jelajah kawasan, guna meminimalkan gangguan terhadap ekosistem.
“Kami tetap mengedepankan prinsip konservasi. Aktivitas wisata diatur agar tidak mengganggu satwa dan habitatnya,” tegas Kristina.
Ia menambahkan, pengelolaan wisata di TN Kutai juga melibatkan masyarakat sekitar melalui kelompok sadar wisata, khususnya di sejumlah titik destinasi yang telah memiliki fasilitas pendukung.
Selain memberikan pengalaman wisata alam, kunjungan wisatawan mancanegara ini turut memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui tiket masuk kawasan konservasi.
Balai TNK berharap tren peningkatan kunjungan ini dapat terus berlanjut dengan tetap menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan.
“Harapannya, TN Kutai tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pusat edukasi konservasi yang berkelas internasional,” pungkasnya.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan