EXPRESI.co, KUTIM – Curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sekitar 18 hektare lahan persawahan di SP2 Desa Margomulyo, Kecamatan Rantau Pulung, terendam banjir.

‎Sawah yang baru ditanami padi hingga kini masih digenangi air dan mulai menimbulkan kerugian bagi para petani.

‎Pemerintah Kecamatan Rantau Pulung bersama perangkat desa dan petugas penyuluh lapangan (PPL) telah turun langsung meninjau lokasi untuk melihat kondisi persawahan sekaligus mencari penyebab lambatnya surut air di kawasan tersebut.

‎“Untuk saat ini banjir yang terjadi ada di SP2 dan merendam kurang lebih 18 hektare persawahan yang baru saja ditanami warga,” ujar Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasah, saat dikonfirmasi, Selasa 26 Mei 2026.

‎Menurut Vita, genangan mulai terjadi sejak tingginya intensitas hujan pada Jumat lalu. Namun berbeda dari biasanya, debit air hingga kini masih bertahan dan belum menunjukkan penurunan signifikan.

‎“Tahun-tahun sebelumnya apabila terjadi rendaman di sawah, biasanya dua hari sudah mengalami penurunan debit air. Tetapi sekarang sudah empat sampai lima hari airnya masih lambat surut,” katanya.

‎Dari hasil peninjauan lapangan, ditemukan adanya sedimentasi di aliran sungai yang menjadi jalur pembuangan air dari area persawahan. Kondisi tersebut dinilai memperlambat aliran air menuju sungai utama sehingga genangan bertahan lebih lama.

‎Selain itu, kerusakan infrastruktur juga disebut menjadi faktor penyebab lambatnya surut banjir. Salah satu gorong-gorong di jembatan penghubung Desa Margomulyo dan Desa Mektijaya dilaporkan mengalami longsor sehingga aliran air tidak berjalan maksimal.

‎“Nah, ini memang jadi salah satu penyebab kenapa air yang menggenangi sawah itu lambat untuk surut,” ucap Vita.

‎Warga bersama kelompok tani berharap pemerintah segera mengambil langkah penanganan, terutama melalui normalisasi sungai yang dianggap menjadi solusi utama untuk mempercepat aliran air keluar dari area persawahan.

‎“Harapan petani tadi adalah adanya normalisasi sungai karena itu menjadi salah satu jalan keluar supaya air yang menggenangi sawah bisa cepat kering,” jelasnya.

‎Selain normalisasi sungai, warga juga meminta adanya peningkatan infrastruktur jembatan yang saat ini masih menggunakan gorong-gorong bundar berukuran kecil. Kapasitas saluran air dinilai tidak lagi mampu menampung debit air tinggi saat hujan deras.

‎Meski merendam area pertanian cukup luas, banjir kali ini tidak sampai menggenangi permukiman warga. Air disebut hanya melintas di lingkungan rumah saat hujan deras dan cepat surut setelah hujan berhenti.

‎“Kalau untuk rumah warga biasanya hanya dilewati air saat hujan deras dan satu sampai dua jam sudah surut kembali,” terang Vita.

‎Akibat genangan tersebut, petani diperkirakan mengalami kerugian pada biaya penanaman awal, terutama bibit padi dan tenaga kerja. Beruntung, tanaman masih berada pada tahap awal tanam sehingga potensi kerugian lebih besar masih dapat ditekan.(Yuristio)