EXPRESI.co, BONTANG – Pihak oposisi pemerintah Chili meluncurkan proses pemakzulan terhadap Presiden Sebastián Piñera terkait dugaan penyimpangan penjualan perusahaan tambang.
Dugaan itu terkuak setelah terungkap dalam Pandora Papers.
Awal bulan Oktober 2021, kantor kejaksaan Chili mengatakan akan membuka penyelidikan atas kemungkinan tuduhan korupsi terkait penyuapan dan pelanggaran pajak penjualan, yang dilakukan di Kepulauan Virgin Britania Raya.
Pandora Papers, kumpulan data “offshore” terbesar yang bocor dalam sejarah, mengungkapkan detail baru dari kesepakatan penambangan tersebut.
Keluarga Piñera disebut menjual saham mereka di proyek tambang Dominga pada tahun 2010 kepada teman dekat dan mitra bisnisnya, Carlos Alberto Délano.
Dilansir LA Times, investigasi Pandora Papers menemukan bukti yang menunjukkan bahwa angsuran pembayaran ketiga berisi ketentuan yang mengharuskan pemerintah tidak memperkuat perlindungan lingkungan di wilayah yang diusulkan untuk penambangan di utara Chili.
Anggota parlemen sayap kiri Jaime Naranjo, salah satu pendorong proses pemakzulan, mengatakan Piñera telah “secara terbuka melanggar konstitusi, yang secara serius mengorbankan kehormatan bangsa”.
Pinera, yang kekayaannya mencapai $2,5 miliar menurut majalah Forbes, telah menyangkal tuduhan itu.
Ia berpendapat bahwa tidak ada penyimpangan yang dilakukan dalam kesepakatan tambang itu.
Langkah terdekat untuk memakzulkan presiden dapat dilakukan di kongres sebelum putaran pertama pemilihan umum Chili pada 21 November.
Jika disetujui oleh majelis rendah, usulan pemakzulan naik ke senat.
Piñera akan dicopot jabatannya jika mayoritas dua pertiga senat setuju.
Status Darurat di 4 Provinsi
Sementara itu, di tengah pengawasan urusan bisnisnya, Piñera pada hari Senin mengumumkan status darurat di empat provinsi di selatan negara itu.
Ketegangan dilaporkan meningkat antara orang-orang Mapuche, kelompok pribumi terbesar Chili, dan polisi dan pemilik tanah.
Kerusuhan telah mengguncang wilayah tersebut sejak pembunuhan tahun 2018 oleh polisi terhadap seorang pria Mapuche yang tidak bersenjata.
Pembunuhan itu disebut ditutup-tutupi sehinggga memicu protes kemarahan di seluruh negeri.
Tekanan Lainnya
Piñera juga masih di bawah tekanan atas penindasan brutal terhadap protes anti-ketidaksetaraan pada 2019 dan 2020.
Mantan menteri dalam negerinya, Andrés Chadwick, dimakzulkan oleh kongres pada puncak protes di tahun Desember 2019.
Piñera sendiri nyaris dimakulkan dalam sebuah pemungutan suara serupa beberapa hari kemudian.
Pada bulan April, hakim Baltasar Garzón mengajukan tuntutan di pengadilan pidana internasional di Den Haag.
Ia menuduh Pinera terlibat dalam dugaan kejahatan hak asasi manusia selama kerusuhan.
Presiden lagi-lagi membantah melakukan tuduhan itu.

Tinggalkan Balasan