EXPRESI.co, BONTANG – Keluhan soal antrean kendaraan di SPBU Tanjung Laut kembali mencuat. Bukan hanya menggangu arus lalu lintas, antrean mobil di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman turut memukul omzet pelaku usaha selama bertahun-tahun.

Bambang–nama samaran– seorang pedagang pakaian yang membuka usaha sejak 2011 mengaku fenomena antrean di depan tokonya terus-menerus terjadi.

“Sudah bertahun-tahun belum juga ada solusi,” ungkapnya, Senin, 17 November 2025.

Bambang mengatakan akses jalan toko usahanya sering kali terhalangi antrean mobil yang mengular. Keadaan ini membuat toko sulit diketahui calon pembelinya.

Akibatnya, toko Bambang sepi pembeli yang berimbas pada omset yang pas-pasan. “Tokonya kan agak masuk ke dalam jadi resikonya tidak kelihatan dari jalanan karena terhalangi antrean mobil,” ucapnya.

Bambang menceritakan banyaknya keluhan pelanggan memaksa mereka biasa mengambil barang pesanan menggunakan jasa Grab. Alasannya pelanggan enggan datang ke toko karena sulit masuk..

Selain itu, ia juga menyebut sering terjadi kesalahpahaman saat pelanggan berkendara mobil memasuki area toko dianggap menyerobot antrean pom bensin.

Bambang mengaku bertahun-tahun rugi imbas antrian mobil hingga kini belum ada kompensasi ganti rugi dari pihak SPBU Tanjung Laut. Ia menilai masyarakat Bontang telah menormalisasikan antrian tersebut.

“Saya dengar beda dengan yang di Samarinda, pihak ruko biasa minta kompensasi,” ujarnya.

Bambang berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang segera memberikan solusi agar berkordinasi dengan dinas terkait dan satlantas untuk melakukan penertiban antrean mobil.

Salah seorang pelaku usaha lainnya, Johan menceritakan antrean SPBU Tanjung Laut sebelumnya didominasi kendaraan truk yang telah berhasil ditertibkan.

“Ini kembali lagi menghalangi akses jalan yg antrean mobil ukuran kecil,” ungkapnya.

Johan meyakini usahanya bisa berkembang lebih baik bila antrean dapat ditata dan tidak menutup jalur masuk tokonya.

“Orang malas datang ke toko karena parkir saja susah,” imbuhnya. (Labib)