EXPRESI.co, Kutai Kartanegara — Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Rian Tri Saputra, menyoroti empat tantangan besar yang tengah dihadapi generasi muda di era digital.

Empat persoalan itu meliputi Fear of Missing Out (FOMO), You Only Live Once (YOLO), Fear of Finding Out (FOFO), serta rendahnya literasi di kalangan pemuda.

Menurut Rian, fenomena FOMO atau ketakutan ketinggalan zaman membuat banyak anak muda selalu ingin tampil eksis di media sosial dan mengikuti tren baru tanpa arah yang jelas.

“Mereka ingin diakui, ingin tampil, tapi kalau tidak dikendalikan justru bisa berdampak negatif,” ujarnya, Selasa (28/10/2025).

Ia menjelaskan, perilaku YOLO juga menjadi tantangan serius. Banyak anak muda yang menjalani hidup dengan prinsip “sekali hidup harus dinikmati”, sehingga cenderung konsumtif dan abai terhadap masa depan.

“YOLO ini membuat sebagian anak muda hidup foya-foya, menghabiskan uang tanpa memikirkan masa depan,” ungkapnya.

Sementara fenomena FOFO, kata Rian, muncul saat anak muda terlalu berfokus mencari pengakuan sosial, baik di lingkungan sekitar maupun dunia maya.

“Kadang mereka kehilangan jati diri hanya untuk terlihat hebat di depan orang lain,” jelasnya.

Selain tiga fenomena itu, rendahnya literasi menjadi tantangan paling mendasar. Rian menilai banyak pemuda kini kurang minat membaca dan menulis, sehingga mudah terpengaruh oleh informasi palsu di dunia digital.

“Perkembangan teknologi membuat arus informasi begitu cepat. Tantangannya, anak muda harus bisa memilah mana yang fakta dan mana yang hoaks,” tegasnya.

Untuk itu, Rian mengajak seluruh pemuda di Kutai Kartanegara agar memperkuat karakter, meningkatkan literasi digital, dan berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah.

“Kami di KNPI mendorong anak muda Kukar agar jadi generasi yang kritis, berdaya saing, dan membawa perubahan positif bagi daerahnya,” pungkasnya.(Adv)