EXPRESI.co, KUTIM – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Muara Ancalong menyebabkan debit air anak sungai meningkat drastis hingga merusak sebuah jembatan penghubung menuju Desa Senyiur, Minggu 5 April 2026.
Jembatan yang terdampak diketahui merupakan konstruksi sementara yang berada di jalur penghubung terbatas. Derasnya arus sungai membuat struktur jembatan tidak mampu bertahan dan akhirnya terputus.
Camat Muara Ancalong, Saberan Nete, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut dalam waktu singkat.
“Curah hujan yang tinggi membuat aliran sungai menjadi deras dan menggerus jembatan. Karena konstruksinya bersifat sementara, kerusakan tidak bisa dihindari,” jelas Saberan saat di konfirmasi, Senin 6 April 2026.
Ia menegaskan bahwa jembatan tersebut bukan merupakan infrastruktur permanen milik pemerintah, melainkan akses sementara yang memang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, pemerintah kecamatan memastikan bahwa kejadian ini tidak mengganggu aktivitas utama warga. Jalur yang terdampak bukan merupakan akses utama yang digunakan sehari-hari.
“Transportasi masyarakat tidak terganggu. Jalur utama tetap aman dan bisa digunakan seperti biasa,” tegasnya.
Menurutnya, akses yang rusak hanya berfungsi sebagai jalur alternatif atau penghubung terbatas, sehingga mobilitas masyarakat menuju pusat kecamatan maupun aktivitas ekonomi tetap berjalan normal.
Saat ini, proses penanganan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perusahaan terkait, guna mempercepat perbaikan jembatan agar dapat segera difungsikan kembali.
Pemerintah kecamatan juga mengingatkan warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar aliran sungai.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi yang beredar di media sosial.
“Jangan sampai informasi yang tidak utuh membuat masyarakat khawatir berlebihan. Faktanya, ini hanya berdampak pada jalur tertentu, bukan akses utama warga,” tutupnya.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan