EXPRESI.co, BONTANG – Gaya hidup kalangan dokter yang cenderung elitis dinilai memunculkan jarak komunikasi dengan pasien di rumah sakit. Hal ini disampaikan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bontang.
Ketua MKEK Bontang, Nurul Fathoni, menyebut masyarakat kerap menilai dokter sebagai kelompok elit dengan gaya hidup yang tinggi. Kondisi ini menurutnya berdampak pada menurunnya rasa percaya pasien dalam berkomunikasi.
“Sehingga yang perlu kita kelola lebih lanjut adalah bagaimana kita hindari moral hazard,” ungkapnya.
Moral Hazard atau resiko moral merupakan suatu keadaan di mana salah satu pihak memiliki informasi lebih banyak dari pada yang lainnya. Keadaan demikian memberi peluang pemilik informasi yang dominan menggunakannya untuk memenuhi kepentingan tertentu dalam berelasi dengan pihak lain.
“Salah satunya (moral hazard) yang sering terjadi, [yang seharusnya] tidak perlu obat A, B, C, D, tapi obatnya banyak. Saat konsul ke spesialis A dikasih 5 obat, pindah ke spesialis B ditambah 5 obat, terus ke spesialis C tambah 5 obat, lantas 15 obat itu mau diapakan?” tegas Fathoni.
Selain soal gaya hidup, Fathoni juga menyoroti regulasi kesehatan yang makin menyerupai industri kapitalistik. Menurutnya, rumah sakit kini bukan hanya tempat pelayanan kesehatan, melainkan juga bagian dari bisnis besar.
Menurutnya, ada kecenderungan sektor Kesehatan dipandang sebagai sebuah industri besar.
“Kita tahu banyak grup-grup rumah sakit yang sekarang ini menguasai seluruh Indonesia dengan segmen yang ada, kita diperhadapakan oleh itu semua,” ujar Fathoni.
Diketahui, Ciptadana Sekurita memprediksi keuntungan perusahaan kesehatan akan tumbuh 4,9 persen pada 2025 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Rumah sakit menjadi salah satu perusahaan subsektor terbanyak yang terdaftar. (LABIB)

Tinggalkan Balasan