EXPRESI.co, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mendorong keterlibatan lebih besar dari para ayah dalam dunia pendidikan, dimulai dari momentum sederhana namun bermakna, mengantar anak di hari pertama sekolah. Imbauan itu tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Bontang tertanggal 11 Juli 2025, dan ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Bontang, Saparuddin, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh kepala sekolah dari jenjang TK hingga SMP untuk menyosialisasikan gerakan tersebut kepada wali murid.

Ia menekankan pentingnya kehadiran ayah di hari pertama masuk sekolah, bukan sebagai formalitas tahunan, tapi bagian dari upaya strategis membangun keterlibatan emosional ayah dalam proses pendidikan anak.

“Gerakan ini bukan seremoni simbolik. Ini soal kesadaran dan kehadiran konkret orang tua, khususnya ayah, dalam membentuk pengalaman awal anak di lingkungan sekolah,” kata Saparuddin saat ditemui, Sabtu, 12 Juli 2025.

Kebijakan ini selaras dengan program nasional bertajuk Gerakan Ayah Teladan Indonesia, hasil kerja sama BKKBN dan Kemendikbudristek. Pemerintah pusat menilai peran ayah kerap termarjinalkan dalam isu pengasuhan, padahal kehadiran mereka di momen-momen krusial seperti hari pertama sekolah mampu memperkuat rasa aman dan percaya diri anak.

Disdikbud juga membuka ruang partisipasi lebih luas dengan meminta sekolah memberi dispensasi bagi ayah yang harus izin dari pekerjaan.

“Sekolah bisa membantu menerbitkan surat keterangan jika dibutuhkan. Jangan sampai sistem kerja menjadi penghalang keterlibatan orang tua,” ujar Saparuddin.

Gerakan ini dijadwalkan berlangsung serentak pada Kamis, 1 Agustus 2025, bertepatan dengan hari pertama tahun ajaran baru. Di sejumlah kota besar, kampanye serupa sudah dilakukan, namun di Bontang, ini baru pertama kali didorong secara resmi melalui edaran wali kota.

Upaya ini menandai perubahan pendekatan pendidikan yang lebih inklusif, menyasar tak hanya siswa dan guru, tapi juga memperluas tanggung jawab pendidikan ke ranah keluarga.

“Harapannya, bukan hanya ayah hadir di hari pertama, tapi terus hadir di sepanjang proses pendidikan anak,” kata Saparuddin. (*/Fn)