EXPRESI.co, KUTIM — Aktivitas beruang madu yang mendekati permukiman warga di Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur, mulai meresahkan.

‎Satwa liar tersebut dilaporkan merusak kandang ternak hingga masuk ke rumah warga untuk mencari makanan.

‎Menindaklanjuti kondisi tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur langsung turun tangan melakukan penanganan di lokasi.

‎Laporan awal kemunculan beruang diterima dari masyarakat pada 31 Maret 2026 melalui Call Center BKSDA Kaltim. Informasi itu menyebutkan adanya aktivitas beruang di sekitar permukiman, termasuk indikasi gangguan terhadap ternak.

‎Sehari setelah laporan diterima, tim BKSDA langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pengecekan sekaligus langkah penanganan awal.

‎Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, mengatakan pihaknya segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan turun langsung ke lapangan.

‎“Perintah dari kepala seksi langsung ditindaklanjuti. Kami tanggal 1 langsung turun ke lokasi untuk mengecek dan melakukan penanganan awal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu 5 April 2026.

‎Di lokasi, tim memasang kandang jebak di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur lintasan beruang. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan satwa tanpa membahayakan warga maupun hewan tersebut.

‎Selain itu, BKSDA juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait keberadaan beruang madu yang merupakan satwa dilindungi.

‎“Kami sampaikan ke masyarakat bahwa beruang madu ini satwa dilindungi. Kalau bertemu, sebaiknya tidak diganggu, cukup diusir secara aman,” katanya.

‎Kemunculan beruang diketahui terjadi di area pinggiran desa yang berbatasan langsung dengan sungai dan kawasan hutan. Kondisi ini diduga menjadi jalur alami satwa keluar dari habitatnya menuju permukiman.

‎“Lokasinya itu di pinggir desa, dekat sungai dan masih berbatasan dengan hutan. Jadi kemungkinan besar beruang ini keluar dari hutan untuk mencari makan,” ujarnya.

‎Warga melaporkan sejumlah kerugian akibat kemunculan satwa tersebut. Kandang ayam rusak, telur ternak dimakan, hingga beberapa rumah warga dimasuki beruang untuk mencari bahan makanan.

‎“Biasanya dia cari makanan seperti telur, gula, atau kecap. Jadi memang bukan hanya madu yang dicari,” ungkapnya.

‎Menurut Ahmad Ripai, secara alami beruang madu tidak berbahaya selama tidak merasa terancam. Namun, perubahan kondisi habitat menjadi salah satu faktor yang mendorong satwa keluar dari hutan.

‎“Kalau tidak diganggu, sebenarnya tidak membahayakan. Tapi sekarang habitatnya mulai terganggu, apalagi saat musim kemarau, makanan di hutan berkurang, sehingga mereka keluar mencari makan,” terangnya.

‎Meski demikian, proses penanganan beruang tidak mudah. Satwa ini dikenal aktif pada malam hari dan sangat sensitif terhadap kehadiran manusia.

‎“Kendala kami, beruang ini aktifnya malam hari. Kalau siang dia jarang terlihat, begitu tahu ada manusia langsung kabur. Jadi agak sulit kalau mau ditangkap dengan pembius,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, penggunaan kandang jebak membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, proses penangkapan bisa berlangsung cukup lama.

‎“Dulu kami pernah menangani di daerah Senoni, itu juga pakai kandang jebak dan butuh waktu cukup lama sampai berhasil,” katanya.

‎Terkait jumlah beruang yang muncul, pihak BKSDA belum dapat memastikan. Informasi yang diterima masih sebatas laporan warga dan jejak di lapangan.

‎“Kami belum bisa memastikan jumlahnya, karena belum ada yang melihat langsung atau memfoto. Baru sebatas jejak dan laporan warga saja,” ujarnya.

‎BKSDA Kaltim pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada sekaligus tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan satwa tersebut.

‎“Kami berharap masyarakat bisa lebih peduli terhadap satwa liar, karena mereka juga bagian dari ekosistem yang harus dijaga,” tutupnya.(Yuristio)