EXPRESI.co, KUTIM — Berangkat dari lahan pribadi sederhana di Kecamatan Sangatta Selatan, usaha budidaya madu kelulut yang dikembangkan Sabil (46) kini tumbuh menjadi sumber penghasilan sekaligus ruang edukasi bagi masyarakat.
Di balik perkembangan tersebut, terdapat proses panjang yang dimulai dari aktivitas sederhana kelompok tani. Lokasi yang awalnya hanya digunakan sebagai tempat berkumpul, perlahan berubah menjadi area eksperimen budidaya lebah kelulut.
“Awalnya cuma untuk tempat pertemuan kelompok saja. Kalau ada kegiatan kami ngumpul di sini, sekalian eksperimen budidaya,” ujarnya saat ditemui di kebun kelulut, Minggu 5 April 2026.
Seiring waktu, kegiatan tersebut mulai menarik perhatian. Tidak hanya petani, pelajar hingga masyarakat umum berdatangan untuk belajar langsung tentang budidaya kelulut. Dari situlah, fungsi lahan berkembang menjadi pusat edukasi.
“Kalau ada yang mau belajar, kami terbuka saja. Bahkan anak-anak sekolah juga sering datang untuk edukasi,” katanya.
Meski terbuka untuk kunjungan, Sabil tetap membatasi jumlah rombongan demi menjaga kestabilan ekosistem peternakan.
“Kalau rombongan biasanya kami batasi, paling dua kali dalam sebulan. Karena ini peternakan, jadi tidak bisa setiap hari ramai pengunjung,” jelasnya.
Usaha ini sendiri telah dirintis sejak 2018 bersama kelompok tani. Namun, kegiatan edukasi dan pengembangan usaha secara lebih luas baru mulai dibuka pada 2022, setelah fasilitas dianggap memadai.
Kelompok ternak bernama Trigona Ribbon yang kini beranggotakan 15 orang terus menunjukkan perkembangan. Dari sekitar 120 sarang di awal, kini jumlahnya meningkat menjadi ratusan yang tersebar di masing-masing anggota.
Dari sisi produksi, satu sarang kelulut mampu menghasilkan sekitar 250 mililiter hingga setengah liter madu setiap panen. Saat ini, sekitar 50 sarang dalam kondisi aktif berproduksi.
Secara pribadi, Sabil mengelola 20 sarang produktif dengan hasil sekitar 5 liter madu per bulan, atau setara 20 botol ukuran 250 mililiter.
“Kalau pribadi paling sedikit 20 botol per bulan. Itu dari 20 sarang yang aktif,” ungkapnya.
Produk madu kelulut tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp150 ribu per botol ukuran 250 mililiter. Jangkauan pasarnya pun terus meluas, tidak hanya di dalam daerah tetapi juga hingga luar negeri melalui jaringan pertemanan.
“Sudah banyak pelanggan di luar daerah. Bahkan ada yang bawa ke luar negeri, walaupun belum dalam skala ekspor,” jelasnya.
Dalam perjalanannya, usaha ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti Dinas Koperasi, Dinas Pariwisata, serta KPHP Bengalon yang berperan dalam pembinaan kelompok.
Namun, di balik perkembangan tersebut, tantangan di lapangan tetap menjadi kendala utama. Gangguan dari beruang madu menjadi ancaman serius karena kerap merusak sarang untuk mengambil madu. Selain itu, faktor cuaca juga turut memengaruhi hasil produksi.
“Hama terbesar di sini beruang. Kadang sarang dirusak untuk ambil madu,” tambahnya.
Dengan segala keterbatasan yang ada, Sabil tetap optimistis. Ia berharap usaha yang dirintisnya tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga mampu menjadi pusat pembelajaran dan mendorong masyarakat untuk ikut mengembangkan budidaya kelulut.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan