EXPRESI.co, KUTIM — Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada 2025 tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan. Di balik dominasi sektor pertambangan yang melemah, sektor non-pertambangan justru menunjukkan pertumbuhan signifikan.

‎Data ini mengindikasikan bahwa struktur ekonomi Kutim mulai bergerak, meski masih dibayangi ketergantungan tinggi terhadap sektor tambang.

‎Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Januar Bayu Irawan, mengungkapkan jika sektor pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi daerah justru mengalami lonjakan cukup tinggi.

‎“Kalau kita keluarkan sektor pertambangan, justru pertumbuhan ekonomi kita naik. Tahun 2024 itu di angka 8,38 persen, dan tahun 2025 naik menjadi sekitar 11 persen,” ujar Januar saat diwawancarai.

‎Kenaikan tersebut menjadi indikator sektor-sektor lain mulai mengambil peran dalam menopang perekonomian daerah, pun kontribusinya belum sepenuhnya mampu menandingi dominasi pertambangan.

‎“Artinya ada kenaikan sekitar 2,5 persen. Ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam mendorong sektor non-pertambangan mulai membuahkan hasil,” tambahnya.

‎Selama ini, struktur ekonomi Kutim masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Ketergantungan ini membuat laju pertumbuhan ekonomi daerah sangat sensitif terhadap fluktuasi sektor tersebut.

‎“Memang harus kita akui, pertambangan masih mendominasi. Jadi ketika sektor itu sedikit saja turun, dampaknya langsung besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” jelasnya.

‎Di sisi lain, sejumlah sektor non-pertambangan justru mencatat kinerja positif. Sektor pertanian tumbuh 9,32 persen dengan kontribusi PDRB sebesar 10,96 persen. Industri pengolahan bahkan tumbuh 19,12 persen dengan kontribusi 5,81 persen.

‎Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 7,19 persen dengan kontribusi 5,81 persen, diikuti sektor perdagangan dan jasa yang juga mengalami peningkatan.

‎“Kalau dilihat dari sektor pertanian, industri, perdagangan, hingga jasa, itu sebenarnya tumbuh. Bahkan ketika kita hitung tanpa pertambangan, hasilnya justru lebih tinggi,” katanya.

‎Kondisi ini dinilai menjadi sinyal awal pergeseran struktur ekonomi Kutim, meski proses transformasi masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam mengurangi dominasi sektor berbasis sumber daya alam.

‎“Ini jadi bukti bahwa kita punya potensi besar di luar pertambangan. Tinggal bagaimana kita memperkuat sektor-sektor tersebut agar lebih berdaya saing,” ucapnya.

‎Ke depan, pemerintah daerah akan mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan sektor unggulan seperti pertanian, perkebunan, serta industri lokal, termasuk melalui kebijakan hilirisasi.

‎“Kita dorong hilirisasi juga, supaya produk yang dihasilkan tidak lagi dalam bentuk mentah, tapi sudah punya nilai tambah,” jelasnya.

‎Selain itu, dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga akan diperkuat sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi kerakyatan.

‎Dengan tren positif sektor non-pertambangan, Pemkab Kutim optimistis struktur ekonomi daerah akan semakin kuat dan tidak lagi terlalu rentan terhadap gejolak sektor tambang.

‎“Harapannya ke depan, kita tidak lagi terlalu bergantung pada pertambangan. Ekonomi kita harus lebih beragam dan berkelanjutan,” pungkas Januar.(Yuristio)