Ketika Gubernur Kaltara pun Turun Tangan Gendong Nenek Terlantar

spot_img

EXPRESI.co, BONTANG – Hidup kecukupan tentunya menjadi impian semua orang, terlebih lagi pada masa sulit seperti sekarang ini, di tengah pandemi Covid-19. Namun, tidak bagi Nenek Zahra, wanita uzur ini hanya bisa ikhlas dengan kondisi kehidupannya yang memprihatinkan, di tengah gencarnya pemerintah pusat dan daerah menggelontorkan bantuan Covid-19.

Parahnya lagi, Nenek Zahra harus tinggal di gubuk yang penuh lubang dan lapuk dimakan usia berukuran 2X2 meter tanpa aliran listrik dan air bersih, di tengah semak belukar di daerah Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Tidak hanya itu, nenek yang tinggal sebatang kara di gubuk reyot sejak belasan tahun silam itu tidak jarang harus menahan lapar, dikala persedian beras miliknya telah habis. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, nenek yang diketahui memiliki 2 anak itu hanya bisa bertahan hidup dari belas kasih warga sekitar, yang merasa prihatin akan nasibnya.

Nenek Zahra menceritakan, hidup susah sudah lama dialaminya bersama suaminya sejak puluhan tahun silam. Hal tersebut diperparah, ketika sang suami meninggal dunia hingga dirinya terpaksa hidup sendiri di sebuah gubuk di tengah semak belukar.

“Dulunya saya tinggal di Desa Mara I, Kecamatana Tanjung Palas Barat, tapi begitu suami saya meninggal langsung pindah dan tinggal sendiri di gubuk di tengah semak belukar,” kata nenek yang pasif berbahasa Indonesia itu, Minggu (8/8/2021).

Sebelum tinggal di tengah semak belukar, Nenek Zahra mengisahkan, dirinya sempat tinggal dan mendirikan pondok di pinggir jalan poros Bulungan-Malinau. Hanya saja, pondok yang ditempatinya itu tidak bertahan lama, lantaran sempat dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab.

Setelah kejadian itu, warga yang merasa prihatin kemudian meminjamkan lahannya yang jauh masuk ke dalam semak belukar. Nenek Zahra pun mendirikan pondok dengan bahan seadanya, untuk dijadikan tempat tinggal.

Dengan kondisi gubuk yang sudah hampir rubuh, tidak jarang gubuk yang ditempatinya sering dimasuki ular dan binatang lainnya. Belum lagi jika hujan turun, maka air hujan membasahi gubuk hingga bagian dalam dan barang-barang yang ada, mengingat, seluruh bagian gubuk sudah banyak berlubang dan hanya ditutupi kain bekas.

“Tinggal di pondok ini sudah sekitar 10 tahun lebih, lahanya punya orang dan waktu mendirikan pondok juga dibantu warga sekitar,” terang Nenek Zahra.

Untuk dapat bertahan hidup hingga sekarang ini, Nenek Zahra hanya mengandalkan dagangannya yang didapat dari sekitar pondok seperti kangkung yang tumbuh liar atau memancing ikan gabus di sungai, kemudian hasilnya dijual kepada warga yang melintas atau mendatangi rumah warga satu persatu.

 

logo

HEADLINE HARI INI

PPKM Level 3-4 Kembali Diperpanjang, Apa Evaluasi dan Strategi Terbaru?

HomeRegionalKalimantan

Ketika Gubernur Kaltara pun Turun Tangan Gendong Nenek Terlantar

Oleh Abelda Gunawan pada 10 Agu 2021, 12:00 WIB

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menggendong Nenek Zahra. Foto Istimewa

Perbesar

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menggendong Nenek Zahra. Foto Istimewa

 

Liputan6.com, Tarakan – Hidup kecukupan tentunya menjadi impian semua orang, terlebih lagi pada masa sulit seperti sekarang ini, di tengah pandemi Covid-19. Namun, tidak bagi Nenek Zahra, wanita uzur ini hanya bisa ikhlas dengan kondisi kehidupannya yang memprihatinkan, di tengah gencarnya pemerintah pusat dan daerah menggelontorkan bantuan Covid-19.

 

 

Parahnya lagi, Nenek Zahra harus tinggal di gubuk yang penuh lubang dan lapuk dimakan usia berukuran 2X2 meter tanpa aliran listrik dan air bersih, di tengah semak belukar di daerah Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara).

 

Tidak hanya itu, nenek yang tinggal sebatang kara di gubuk reyot sejak belasan tahun silam itu tidak jarang harus menahan lapar, dikala persedian beras miliknya telah habis. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, nenek yang diketahui memiliki 2 anak itu hanya bisa bertahan hidup dari belas kasih warga sekitar, yang merasa prihatin akan nasibnya.

 

Nenek Zahra menceritakan, hidup susah sudah lama dialaminya bersama suaminya sejak puluhan tahun silam. Hal tersebut diperparah, ketika sang suami meninggal dunia hingga dirinya terpaksa hidup sendiri di sebuah gubuk di tengah semak belukar.

 

“Dulunya saya tinggal di Desa Mara I, Kecamatana Tanjung Palas Barat, tapi begitu suami saya meninggal langsung pindah dan tinggal sendiri di gubuk di tengah semak belukar,” kata nenek yang pasif berbahasa Indonesia itu, Minggu (8/8/2021).

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hidup Sebatang Kara

Nenek Zahra tinggal di kebun warga di Bulungan Kaltara. Perbesar

Nenek Zahra tinggal di kebun warga.

Sebelum tinggal di tengah semak belukar, Nenek Zahra mengisahkan, dirinya sempat tinggal dan mendirikan pondok di pinggir jalan poros Bulungan-Malinau. Hanya saja, pondok yang ditempatinya itu tidak bertahan lama, lantaran sempat dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab.

 

Setelah kejadian itu, warga yang merasa prihatin kemudian meminjamkan lahannya yang jauh masuk ke dalam semak belukar. Nenek Zahra pun mendirikan pondok dengan bahan seadanya, untuk dijadikan tempat tinggal.

 

Dengan kondisi gubuk yang sudah hampir rubuh, tidak jarang gubuk yang ditempatinya sering dimasuki ular dan binatang lainnya. Belum lagi jika hujan turun, maka air hujan membasahi gubuk hingga bagian dalam dan barang-barang yang ada, mengingat, seluruh bagian gubuk sudah banyak berlubang dan hanya ditutupi kain bekas.

 

“Tinggal di pondok ini sudah sekitar 10 tahun lebih, lahanya punya orang dan waktu mendirikan pondok juga dibantu warga sekitar,” terang Nenek Zahra.

 

Untuk dapat bertahan hidup hingga sekarang ini, Nenek Zahra hanya mengandalkan dagangannya yang didapat dari sekitar pondok seperti kangkung yang tumbuh liar atau memancing ikan gabus di sungai, kemudian hasilnya dijual kepada warga yang melintas atau mendatangi rumah warga satu persatu.

Saat menjajakan dagangannya, warga sekitar tidak jarang memberikan beras, mi instan, dan lauk pauk lainnya. Hanya saja, diakui Nenek Zahra, meski ada lauk pauk dirinya kerap tidak makan dan terpaksa menahan lapar lantaran stok beras miliknya telah habis.

“Warga biasa memberikan lauk pauk, tapi tidak bisa makan karena tidak ada beras untuk dimasak menjadi nasi,” bebernya.

Saat ditanyai keberadaan kedua anaknya, Nenek Zahra menuturkan, hingga saat ini kedua anaknya telah ikut bersama orang lain. Dikarenakan, kedua anaknya sejak kecil sudah dirawat orang lain lantaran hidupnya yang sangat susah.

Meski salah satu anaknya kerap datang berkunjung, tetapi anaknya tersebut tidak dapat membantu banyak karena dia pun hidup pas-pasan. Tidak jarang, jika mendapatkan bantuan dari warga sekitar, bantuan tersebut dibagi lagi bersama anaknya yang datang berkunjung.

“Kadang anak saya datang, tapi tidak banyak bisa membantu, bahkan jika ada bantuan lebih dari warga sekitar saya bagi lagi untuk anak-anak saya,” tuturnya.

hare : Copy Link

 

logo

HEADLINE HARI INI

PPKM Level 3-4 Kembali Diperpanjang, Apa Evaluasi dan Strategi Terbaru?

HomeRegionalKalimantan

Ketika Gubernur Kaltara pun Turun Tangan Gendong Nenek Terlantar

Oleh Abelda Gunawan pada 10 Agu 2021, 12:00 WIB

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menggendong Nenek Zahra. Foto Istimewa

Perbesar

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menggendong Nenek Zahra. Foto Istimewa

 

Liputan6.com, Tarakan – Hidup kecukupan tentunya menjadi impian semua orang, terlebih lagi pada masa sulit seperti sekarang ini, di tengah pandemi Covid-19. Namun, tidak bagi Nenek Zahra, wanita uzur ini hanya bisa ikhlas dengan kondisi kehidupannya yang memprihatinkan, di tengah gencarnya pemerintah pusat dan daerah menggelontorkan bantuan Covid-19.

 

 

Parahnya lagi, Nenek Zahra harus tinggal di gubuk yang penuh lubang dan lapuk dimakan usia berukuran 2X2 meter tanpa aliran listrik dan air bersih, di tengah semak belukar di daerah Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara).

 

Tidak hanya itu, nenek yang tinggal sebatang kara di gubuk reyot sejak belasan tahun silam itu tidak jarang harus menahan lapar, dikala persedian beras miliknya telah habis. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, nenek yang diketahui memiliki 2 anak itu hanya bisa bertahan hidup dari belas kasih warga sekitar, yang merasa prihatin akan nasibnya.

 

Nenek Zahra menceritakan, hidup susah sudah lama dialaminya bersama suaminya sejak puluhan tahun silam. Hal tersebut diperparah, ketika sang suami meninggal dunia hingga dirinya terpaksa hidup sendiri di sebuah gubuk di tengah semak belukar.

 

“Dulunya saya tinggal di Desa Mara I, Kecamatana Tanjung Palas Barat, tapi begitu suami saya meninggal langsung pindah dan tinggal sendiri di gubuk di tengah semak belukar,” kata nenek yang pasif berbahasa Indonesia itu, Minggu (8/8/2021).

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hidup Sebatang Kara

Nenek Zahra tinggal di kebun warga di Bulungan Kaltara. Perbesar

Nenek Zahra tinggal di kebun warga.

Sebelum tinggal di tengah semak belukar, Nenek Zahra mengisahkan, dirinya sempat tinggal dan mendirikan pondok di pinggir jalan poros Bulungan-Malinau. Hanya saja, pondok yang ditempatinya itu tidak bertahan lama, lantaran sempat dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab.

 

Setelah kejadian itu, warga yang merasa prihatin kemudian meminjamkan lahannya yang jauh masuk ke dalam semak belukar. Nenek Zahra pun mendirikan pondok dengan bahan seadanya, untuk dijadikan tempat tinggal.

 

Dengan kondisi gubuk yang sudah hampir rubuh, tidak jarang gubuk yang ditempatinya sering dimasuki ular dan binatang lainnya. Belum lagi jika hujan turun, maka air hujan membasahi gubuk hingga bagian dalam dan barang-barang yang ada, mengingat, seluruh bagian gubuk sudah banyak berlubang dan hanya ditutupi kain bekas.

 

“Tinggal di pondok ini sudah sekitar 10 tahun lebih, lahanya punya orang dan waktu mendirikan pondok juga dibantu warga sekitar,” terang Nenek Zahra.

 

Untuk dapat bertahan hidup hingga sekarang ini, Nenek Zahra hanya mengandalkan dagangannya yang didapat dari sekitar pondok seperti kangkung yang tumbuh liar atau memancing ikan gabus di sungai, kemudian hasilnya dijual kepada warga yang melintas atau mendatangi rumah warga satu persatu.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menerima Bantuan Tetangga

Gubernur Kaltara mengunjungi Nenek Zahra. Perbesar

Gubernur Kaltara mengunjungi Nenek Zahra.

Saat menjajakan dagangannya, warga sekitar tidak jarang memberikan beras, mi instan, dan lauk pauk lainnya. Hanya saja, diakui Nenek Zahra, meski ada lauk pauk dirinya kerap tidak makan dan terpaksa menahan lapar lantaran stok beras miliknya telah habis.

 

“Warga biasa memberikan lauk pauk, tapi tidak bisa makan karena tidak ada beras untuk dimasak menjadi nasi,” bebernya.

 

Saat ditanyai keberadaan kedua anaknya, Nenek Zahra menuturkan, hingga saat ini kedua anaknya telah ikut bersama orang lain. Dikarenakan, kedua anaknya sejak kecil sudah dirawat orang lain lantaran hidupnya yang sangat susah.

 

Meski salah satu anaknya kerap datang berkunjung, tetapi anaknya tersebut tidak dapat membantu banyak karena dia pun hidup pas-pasan. Tidak jarang, jika mendapatkan bantuan dari warga sekitar, bantuan tersebut dibagi lagi bersama anaknya yang datang berkunjung.

 

“Kadang anak saya datang, tapi tidak banyak bisa membantu, bahkan jika ada bantuan lebih dari warga sekitar saya bagi lagi untuk anak-anak saya,” tuturnya.

Sejak belasan tahun menempati gubuk yang nyaris roboh itu, Nenek Zahra tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, terlebih lagi pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Bukan tanpa sebab Nenek Zahra tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, pasalnya, Nenek Zahra tidak terdata oleh pemerintah dikarenakan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Bahkan, saat ditanyai berapa usianya saat ini, Nenek Zahra tidak mengetahui persis sudah berapa tahun usianya. Hanya saja, diakui Nenek Zahra, dirinya sudah lahir sebelum zaman penjajahan terjadi, kala Jepang menjajah Indonesia.

“Yang bantu selama ini hanya warga sekitar, kalau dari pemerintah tidak pernah, jangankan dapat bantuan dari pemerintah KTP atau kartu pengenal lainnya saja saya tidak punya,” sebutnya.

Dengan kondisi Nenek Zahra yang memprihatinkan, kini bantuan dari pemerintah akan mengalir untuk dirinya. Apalagi, Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang beserta istri dan anaknya mendatangi langsung gubuk yang ditempati Nenek Zahra.

Tidak hanya melihat kondisi Nenek Zahra, rombongan Gubernur Zainal juga memberikan bantuan secara langsung berupa bahan makan dan perlengkapan lainnya untuk Nenek Zahra selama tinggal di gubuk berukuran 2m x 2m itu.

Saat berkunjung ke gubuk Nenek Zahra, Gubernur Zainal yang membawa seluruh staf-nya dari rumah jabataan Gubernur turut merenovasi gubuk yang penuh lubang dan nyaris ambruk itu, agar layak ditempati Nenek Zahra.

Sebelum gubuk tersebut direnovasi, Nenek Zahra yang kesulitan bangun dari tempat tidurnya karena sakit akibat tertabrak kendaraan terpaksa dibopong Gubernur Zainal, untuk dipindahkan ke rumah warga sekitar selama gubuknya dalam tahap renovasi.

 

logo

HEADLINE HARI INI

PPKM Level 3-4 Kembali Diperpanjang, Apa Evaluasi dan Strategi Terbaru?

HomeRegionalKalimantan

Ketika Gubernur Kaltara pun Turun Tangan Gendong Nenek Terlantar

Oleh Abelda Gunawan pada 10 Agu 2021, 12:00 WIB

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menggendong Nenek Zahra. Foto Istimewa

Perbesar

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menggendong Nenek Zahra. Foto Istimewa

 

Liputan6.com, Tarakan – Hidup kecukupan tentunya menjadi impian semua orang, terlebih lagi pada masa sulit seperti sekarang ini, di tengah pandemi Covid-19. Namun, tidak bagi Nenek Zahra, wanita uzur ini hanya bisa ikhlas dengan kondisi kehidupannya yang memprihatinkan, di tengah gencarnya pemerintah pusat dan daerah menggelontorkan bantuan Covid-19.

 

 

Parahnya lagi, Nenek Zahra harus tinggal di gubuk yang penuh lubang dan lapuk dimakan usia berukuran 2X2 meter tanpa aliran listrik dan air bersih, di tengah semak belukar di daerah Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara).

 

Tidak hanya itu, nenek yang tinggal sebatang kara di gubuk reyot sejak belasan tahun silam itu tidak jarang harus menahan lapar, dikala persedian beras miliknya telah habis. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, nenek yang diketahui memiliki 2 anak itu hanya bisa bertahan hidup dari belas kasih warga sekitar, yang merasa prihatin akan nasibnya.

 

Nenek Zahra menceritakan, hidup susah sudah lama dialaminya bersama suaminya sejak puluhan tahun silam. Hal tersebut diperparah, ketika sang suami meninggal dunia hingga dirinya terpaksa hidup sendiri di sebuah gubuk di tengah semak belukar.

 

“Dulunya saya tinggal di Desa Mara I, Kecamatana Tanjung Palas Barat, tapi begitu suami saya meninggal langsung pindah dan tinggal sendiri di gubuk di tengah semak belukar,” kata nenek yang pasif berbahasa Indonesia itu, Minggu (8/8/2021).

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hidup Sebatang Kara

Nenek Zahra tinggal di kebun warga di Bulungan Kaltara. Perbesar

Nenek Zahra tinggal di kebun warga.

Sebelum tinggal di tengah semak belukar, Nenek Zahra mengisahkan, dirinya sempat tinggal dan mendirikan pondok di pinggir jalan poros Bulungan-Malinau. Hanya saja, pondok yang ditempatinya itu tidak bertahan lama, lantaran sempat dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab.

 

Setelah kejadian itu, warga yang merasa prihatin kemudian meminjamkan lahannya yang jauh masuk ke dalam semak belukar. Nenek Zahra pun mendirikan pondok dengan bahan seadanya, untuk dijadikan tempat tinggal.

 

Dengan kondisi gubuk yang sudah hampir rubuh, tidak jarang gubuk yang ditempatinya sering dimasuki ular dan binatang lainnya. Belum lagi jika hujan turun, maka air hujan membasahi gubuk hingga bagian dalam dan barang-barang yang ada, mengingat, seluruh bagian gubuk sudah banyak berlubang dan hanya ditutupi kain bekas.

 

“Tinggal di pondok ini sudah sekitar 10 tahun lebih, lahanya punya orang dan waktu mendirikan pondok juga dibantu warga sekitar,” terang Nenek Zahra.

 

Untuk dapat bertahan hidup hingga sekarang ini, Nenek Zahra hanya mengandalkan dagangannya yang didapat dari sekitar pondok seperti kangkung yang tumbuh liar atau memancing ikan gabus di sungai, kemudian hasilnya dijual kepada warga yang melintas atau mendatangi rumah warga satu persatu.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menerima Bantuan Tetangga

Gubernur Kaltara mengunjungi Nenek Zahra. Perbesar

Gubernur Kaltara mengunjungi Nenek Zahra.

Saat menjajakan dagangannya, warga sekitar tidak jarang memberikan beras, mi instan, dan lauk pauk lainnya. Hanya saja, diakui Nenek Zahra, meski ada lauk pauk dirinya kerap tidak makan dan terpaksa menahan lapar lantaran stok beras miliknya telah habis.

 

“Warga biasa memberikan lauk pauk, tapi tidak bisa makan karena tidak ada beras untuk dimasak menjadi nasi,” bebernya.

 

Saat ditanyai keberadaan kedua anaknya, Nenek Zahra menuturkan, hingga saat ini kedua anaknya telah ikut bersama orang lain. Dikarenakan, kedua anaknya sejak kecil sudah dirawat orang lain lantaran hidupnya yang sangat susah.

 

Meski salah satu anaknya kerap datang berkunjung, tetapi anaknya tersebut tidak dapat membantu banyak karena dia pun hidup pas-pasan. Tidak jarang, jika mendapatkan bantuan dari warga sekitar, bantuan tersebut dibagi lagi bersama anaknya yang datang berkunjung.

 

“Kadang anak saya datang, tapi tidak banyak bisa membantu, bahkan jika ada bantuan lebih dari warga sekitar saya bagi lagi untuk anak-anak saya,” tuturnya.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tidak Memiliki KTP Seumur Hidupnya

Istri Gubernur Kaltara ikut mendampingi suaminya menemui Nenek Zahra. Perbesar

Istri Gubernur Kaltara ikut mendampingi suaminya menemui Nenek Zahra.

Sejak belasan tahun menempati gubuk yang nyaris roboh itu, Nenek Zahra tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, terlebih lagi pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Bukan tanpa sebab Nenek Zahra tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, pasalnya, Nenek Zahra tidak terdata oleh pemerintah dikarenakan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).

 

Bahkan, saat ditanyai berapa usianya saat ini, Nenek Zahra tidak mengetahui persis sudah berapa tahun usianya. Hanya saja, diakui Nenek Zahra, dirinya sudah lahir sebelum zaman penjajahan terjadi, kala Jepang menjajah Indonesia.

 

“Yang bantu selama ini hanya warga sekitar, kalau dari pemerintah tidak pernah, jangankan dapat bantuan dari pemerintah KTP atau kartu pengenal lainnya saja saya tidak punya,” sebutnya.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Gubernur Kaltara Kunjungi Nenek Zahra

Rumah gubuk nenek Zahra di Bulungan Kaltara. Foto istimewa Perbesar

Rumah gubuk nenek Zahra di Bulungan Kaltara.

Dengan kondisi Nenek Zahra yang memprihatinkan, kini bantuan dari pemerintah akan mengalir untuk dirinya. Apalagi, Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang beserta istri dan anaknya mendatangi langsung gubuk yang ditempati Nenek Zahra.

 

Tidak hanya melihat kondisi Nenek Zahra, rombongan Gubernur Zainal juga memberikan bantuan secara langsung berupa bahan makan dan perlengkapan lainnya untuk Nenek Zahra selama tinggal di gubuk berukuran 2m x 2m itu.

 

Saat berkunjung ke gubuk Nenek Zahra, Gubernur Zainal yang membawa seluruh staf-nya dari rumah jabataan Gubernur turut merenovasi gubuk yang penuh lubang dan nyaris ambruk itu, agar layak ditempati Nenek Zahra.

 

Sebelum gubuk tersebut direnovasi, Nenek Zahra yang kesulitan bangun dari tempat tidurnya karena sakit akibat tertabrak kendaraan terpaksa dibopong Gubernur Zainal, untuk dipindahkan ke rumah warga sekitar selama gubuknya dalam tahap renovasi.

“Jadi yang pertama kali mendapatkan informasi ini istri saya, bahwasanya ada rumah tidak layak huni kalau kasarnya seperti kandang ayam, yang ditempati Nenek Zahra,” jelas Gubernur Zainal.

“Begitu medapatkan informasi, saya bersama keluarga, seluruh staf di rumah jabatan dan sahabat langsung mendatangi rumah Nenek Zahra, untuk memberikan bantuan dan merenovasi tempat tinggalnya,” tambah Gubernur Zainal.

Gubernur Zainal berharap, jika masyarakat Kaltara yang mengetahui adanya warga yang tinggal di tempat tidak layak atau mengalami kesusahan, seperti yang dialami Nenek Zahra untuk segera melapor ke pihak terkait, agar dapat segera ditindaklanjuti.

 

“Insya Allah akan segera saya tindak lanjuti laporan itu, karena saya tidak mau melihat lagi ada warga yang kesusahan seperti yang dialami Nenek Zahran,” dia menandaskan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest Articles