Redaksi

EXPRESI.co, BONTANG – Petani tebu dan pedagang gula memaparkan sejumlah alasan gula produksi dalam negeri bisa dua kali lipat lebih mahal dari harga gula internasional. Mulai dari tingginya Harga Pokok Produksi (HPP), infrastruktur penggilingan yang tidak mendukung, hingga mekanisme pasar.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen menyebut gula RI tak berdaya saing karena petani tebu tidak ditunjang dengan fasilitas seperti petani di luar negeri.

Pertama, ia menyebut petani tebu Indonesia memiliki area tanam yang sempit. Menurut dia, petani lokal secara rata-rata hanya punya 1-2 hektare (ha) lahan, jauh dari petani Australia yang dari tinjauannya punya 1.000-2.000 ha lahan.

Dengan sempitnya area tanam, otomatis secara ekonomis penghasilan yang didapatkan pun lebih kecil.

Kedua, lemahnya teknologi tanam. Pria yang akrab disapa Mitro itu menyebut di Indonesia untuk memupuk 1 ha tanah, dibutuhkan sekitar 50 orang per hari. Sedangkan di Australia, dengan mengandalkan traktor, 1 orang bisa mengerjakan 5 ha lahan per hari.

“Jangan punya pikiran karena di desa tenaga kerja lebih murah dari pekerja (buruh) pabrik. Lebih murah bayar pekerja pabrik daripada di sawah,” kata dia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/4).

Ketiga, mahalnya bunga kredit bank untuk petani. Ia menyebut kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga 6 persen diberikan dengan maksimal plafon Rp500 juta. Di luar itu, petani harus mencari pendanaan di bank umum dengan bunga berkisar antara 10-12 persen.

Bunga kredit di luar KUR, lanjutnya, lebih tinggi 4-5 kali lipat dari bunga petani di Thailand yang berkisar di level 2-2,5 persen per tahun.

“Petani kita tidak ditunjang, bagaimana petani kita punya fasilitas yang sama dengan petani luar negeri, banyak sekali bedanya,” imbuhnya.

Kemudian, ia menyebut pabrik penggilingan tebu RI sudah uzur dan perlu mendapat penggantian mesin baru. Dari hasil panen 1 ha, secara rata-rata ia mengatakan dihasilkan sekitar 100 ton tebu.

Dari sana, ia menyebut per 100 ton tebu, yang bisa dihasilkan penggilingan pabrik dalam negeri hanya sekitar 7-8 ton gula. Tak usah jauh-jauh, ia menyebut di Thailand untuk jumlah sama, gula yang dihasilkan dapat mencapai sekitar 14-15 ton.

Dari setiap penggilingan, ia menyebut petani mendapat bagi hasil sebesar 66 persen dan 34 persennya merupakan imbal hasil untuk penggiling. Angka ini sedikit lebih rendah dari Thailand dengan rasio 70 persen-30 persen.

Hitung-hitungannya, untuk petani Thailand setiap satu ha tanah, bisa dihasilkan hampir 10 ton gula. Sedangkan untuk petani RI hanya mendapat hampir 5 juta ton beras, hanya setengahnya.

Dengan kata lain, ia menyebut harga gula dalam negeri mahal tidak berarti petani RI makmur, konsumen membayar ketidakefisienan produksi gula dalam negeri.

Dari kalkulasi dia, setiap 1 ha lahan dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp50 juta hingga panen. Artinya, harga pokok petani (HPP) minimal agar petani tidak merugi sebesar Rp10 ribu per kg gula.

Sementara itu, sejak 2016 HPP gula tidak berubah dan mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 42 tahun 2016, ditetapkan sebesar Rp9.100 per kg.

Boro-boro untung, Mitro mengaku petani kerap rugi saat lelang gula karena HPP, menurut dia, lebih rendah dari biaya produksi. Maka dari itu, ia mengusulkan agar HPP gula diubah menjadi Rp14 ribu per kg. (*)

Editor : Bagoez Ankara

Print Friendly, PDF & Email

Also Read

Tags

Ads - Before Footer